itulah yang ada di pikiran Rasya malam itu sepulang jalan-jalan bersama pacarnya, farry. sbeelum pergi pun mereka sempat bertengkar, yah hanya masalah sepele saja. karena Farry tidak memberi kabar sejak semalam, dan pagiharinya bukannya memberi penjelasan dia malah sibuk sendiri dan tidak memberi kabar hanya beberapa kali. bagaimana dia tidak kesal, bahkan pacarnya saja masih tidak mengerti sifat Rasya. selama 3 tahun ini selalu saja dia bersikap seperti itu, entah farry yang tidak mengerti atau memang farry tidak ada niatan untuk merubah sifatnya. setiap kali dia membuat Rasya kesal tidak pernah dia meminta maaf atau memberi penjelasan. yang keluar dari mulutnya hanyalah "Kamu kenapa deh ay?" tidak pernah sekalipun dia sadar akan kesalahannya.
tidak tahu lagi apa yang harus Rasya lakukan, dibicarakan sudah, didiamkan juga sudah, tapi selalu saja sifatnya seperti itu. hari itu saat mereka sedang jalan-jalan hanya masalah sepele saja mereka bertengkar, sifat farry yang terlihat membosankan membuat Rasya bosan. memang saat itu dia baru pulang bermain bola, jadi dia lelah sekali ditambah harus menemani Rasya jalan-jalan.
"Udah kan ay? pulang yuk capek nih jalan-jalan terus daritadi."
"Yah kok udahan sih?"
"Iya aku kan tadi habis main bola dulu ay jadi masih pegel banget. aku udah lama nggak olahraga jadi masih keasa pegelnya."
"Trus kamu jadi mau beliin makanan buat kakak kamu?"
"Nggak tahu." Rasya masih mengajaknya berputar untuk melihat-lihat baju, karena letih dan bosan juga dengan wajah Farry yang terlihat bosan dan letih dia pun mengusulkan untuk pulang saja, namun Farry salah tangkap dengan ucapan Rasya sehingga terjadi kesalahpahaman.
"Yah kok udahan sih?"
"Iya aku kan tadi habis main bola dulu ay jadi masih pegel banget. aku udah lama nggak olahraga jadi masih keasa pegelnya."
"Trus kamu jadi mau beliin makanan buat kakak kamu?"
"Nggak tahu." Rasya masih mengajaknya berputar untuk melihat-lihat baju, karena letih dan bosan juga dengan wajah Farry yang terlihat bosan dan letih dia pun mengusulkan untuk pulang saja, namun Farry salah tangkap dengan ucapan Rasya sehingga terjadi kesalahpahaman.
"Yaudah yuk pulang aja."
"Tuh nggak usah bete gitu tapi tampangnya."
"Siapa yang bete sih, yaudah ayo kasian kamu cape."
"Yaudah nggak usah marah gitulah."
"Ih siapa yang marah sih, aku ngajak pulang malah dibilang marah. terserah deh ah."
"Tuh nggak usah bete gitu tapi tampangnya."
"Siapa yang bete sih, yaudah ayo kasian kamu cape."
"Yaudah nggak usah marah gitulah."
"Ih siapa yang marah sih, aku ngajak pulang malah dibilang marah. terserah deh ah."
Kesal karena disalah mengerti oleh Farry, Rasya pun menjadi beneran marah. Seharusnya Rasya pun tidak usah ikutan marah karena keadaan Farry saat itu sedang lelah. harusnya dia mengerti dan bukannya malah marah, alhasil sepanjang perjalanan mereka hanya diam saja hingga tiba dirumah.
namun kemudian Farry mengajak ngobrol Rasya tanpa terdengar nada marah, tanpa minta maaf tiba-tiba mereka sudah baikan kembali. yang tersisa di hati Rasya hanya kesal. Rasya langsung pulang namun tidak dengan Farry, dia berkunjung dahulu kerumah temannya yang semakin membuat hati Rasya menjadi tambah kesal. dan tentu saja, Farry tidak akan menyadari jika Rasya masih dan akan marah.
No comments:
Post a Comment